Minggu, 18 Januari 2009

Untuk Mengenang SOE HOK GIE

Satu bulan ini saya membaca buku yang berjudul “ Soe Hok Gie ; ZAMAN PERALIHAN “ yang saya pinjam dari seorang teman. Dalam benak saya hanya ingin mencoba mengenal lebih tentang Sosok Soe Hok Gie, sekaligus memperingati hari ulta dan meninggalnya Soe Hok Gie. Isinya bukunya menarik buat dibaca walaupun saya belum selesai membaca seluruhnya sampai sekarang.
Buku yang diterbitkan oleh GagasMedia yang berisi pemikiran Soe Hok Gie tentang berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemikiran yang yang sungguh penting untuk dibaca oleh generasi muda sekarang. Selain karena tetap masih relevan, juga mencakup hal-hal substansial dalam sejarah bangsa ini.
Almarhum Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh penting mahasiswa. Ia termasuk salah satu tokoh kunci dalam sejarah munculnya Angkatan ’66. Sebuah angkatan dalam sejarah gerakan kaum terpelajar muda di Indonesia yang nyaris jadi legenda, sekaligus jadi mitos.
Soe Hoe Gie, yang disaat akhir hidupnya masih tercatat sebagai staf pengajar di jurusan sejarah FSUI, adalah sosok orang muda yang mewakili zamannya. Ia meninggal hanya sehari menjelang usianya ke 27, (lahir 17 Desember 1942, dan 16 meninggal Desember 1969).Meninggal dunia di puncak Gunung Semeru, bersama kawannya Idhan Dhanvantari Lubis yang baru berusia 20 tahun. Filsafahnya yang selalu dikenang temannya adalah kala mengajak seseorang mendaki gunung. “ Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat dipedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cumin Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini. “ kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun yang lalu.
Dalam setiap tulisannya, rasa idealisme Soe Hoe Gie terasa kental. Ia tidak mampu menyembunyikan rasa galaunya dalam melihat realita di masyarakat, jika dihubungkan dengan idealisme kaum muda. Mempertahankan idealisme ternyata bukan pekerjaan ringan, dan itu dirasakannya sendiri, ketika ia bergulat dalam catatan hariannya : “ Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas sejauh-jauhnya (LP3ES, 1983, hal.221).
Dengan kesedihan yang mendalam, ia mellihat bagaimana rakyat di pedesaaan dan mahasiswa kampus tercabik-cabik oleh perlombaan kepentingan politik arus atas. Dalam “Menaklukan Gunung Slamet”, ia bercerita tentang kepedihan hatinya melihat Indonesia yang sebetulnya tidak berubah. Hipokrisi, cakar-cakaran, korupsi, dan tukang kecap masih menonjol.
Sebagai seorang bekas aktifis mahasiswa (ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI dan seorang pendiri Mapala UI), Soe Hok Gie tahu benar betapa tidak sehatnya dunia kemahasiswaan. Termasuk dikampusnya sendiri. Dalam tulisan “ Wajah Mahasiswa UI yang Bertopeng Sebelah “,
Seo Hok Gie dengan gaya keterusterangannya yang khas, mencoba membongkar kebobrokan di kalangan mahasiswa UI.
Antara tanggal 8 Oktober 1968 sampai tanggal 3 Januari 1969, soe Hok Gie berkesempatan ke Amerika Serikat dan Australia. Ia berangkaat ke AS, atas undangan Deparlu AS. Selama sekitar 70 hari AS, aktivitasnya berkaitan dalam kapasitasnya selaku tokoh mahasiswa. Ia berkelana dari kampus ke kampus terkenal di Amerika. Berkeley, Yale, Cornell, serta bergaul dengan mahasiswa dan intelektual mancanegara.
Berbagai pengalaman dan renungannya di negeri orang, secara berkala ia kirimkan ke berbagai media cetak ibu kota. Pengalaman cosmopolitan ini agaknya begitu membekas pada dirinya, sebagaimana yang ia toreh kan dalam puisi berikut ini :
“ Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama-buruh dan pemuda, bangkit dan berkata : stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apapun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan membangun dunia, yang lebih baik…..”.

Sayang, So Hok Gie tergesa meninggal dunia, sebelum sempat memengaruhi temen-temennya secara missal. Pikiran-pikiran Soe Hoe Goe belum sempat menjadi perbuatan, baru menjadi konsep. Seandainya Soe Hok Gie berumur panjang mungkin ia akan menjadi sumber inspirasi perumusan dan perbuatan dari gerakan mahasiswa. Meskipun dalam tulisan-tulisannya Soe Hok Gie telah mencoba untuk mengangkat masalah tapi secara keseluruhan yang dia inginkan belum sempat semuanya dituliskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar