Rabu, 11 Maret 2009

JAKARTA BERSATU

Tanggal 8 Maret 2009, efen musik besar diadakan di Senayan ( Jakarta Bersatu ). Dari yang gw jumpai banyak banget anak-anak dari luar kota yang datang berkumpul, berbagi cerita kondisi scen punk di daerahnya sendiri, bernostalgila sambil berbagi minuman.
ini adalah ke 2 kalinya gw datang ke acara ini, lumayan buat tambah pengalaman dan menambah teman serta menambah info tentang scen Punk 'n Skin di daerah-daerah luar Jakarta dan Jawa.
suasananya asik banget banyak juga generasi baru yang rata-rata dibawa umur, tpi yang lebih penting....CEWE nya keren-keren.... pokok nya PUNK TAK KAN PERNAH MATI dan Cheears buat SKINHEADS......!!!!!

Kamis, 29 Januari 2009

Deklarasi Skinhead Menentang Rasisme

BELIA pasti sering ngeliat sekumpulan anak muda yang berkepala botak plontos, berjalan memakai sepatu boots dan berjaket dengan beberapa tempelan emblem. Mereka kerap dikenal dengan sebutan Skinheads. Apa sih sebenernya Skinhead itu? Fashion sajakah? Atau benar-benar gaya hidup? Mau tau penjelasannya mending kita simak penelusuran belia kali ini.

Awalnya, belia sempet mikir kalo Skinhead tuh berasal dari negeri Jerman. Kayaknya Skinhead nih influence pemikiran rasis yang dibentuk dalam gaya hidup dan tren anak muda pada zaman Hitler.

Apalagi setelah nonton film American History yang menceritakan kehidupan kaum Skinhead di Amerika sana. Dalam film tersebut seolah diceritakan bahwa Skinhead adalah sekelompok anak muda yang sangat membenci bangsa kulit hitam. Sekelompok anak muda yang digambarkan dengan kelakuan brutal, bengis, dan berbagai penyiksaan yang dilakukan terhadap bangsa kulit hitam.

Weitt, ternyata simpulan awal belia salah total! Hampir sajah belia mengubah perkembangan sejarah murni Skinhead. Skinhead yang belia anggap rasis tersebut ternyata bukan asli budaya Skinhead. Skinhead yang rasis tersebut hanya sekumpulan anak muda yang dimanfaatkan oleh sekumpulan pihak dan kepentingan tertentu.

Selidik punya selidik ternyata Skinhead merupakan subbudaya anak muda yang lahir di Inggris pada tahun 1960-an. budaya tersebut berasal dari perpaduan kehidupan pemuda Jamaika (rude boy) dan kaum Moods. Alhasil, karena mereka senang berkumpul dalam tempat nongkrong yang sama. "Dengan kebiasan nakal pemuda saat itu serta kesukaan yang sama terhadap musik ska dan musik berirama two tones. Akhirnya lahirlah musik Oi! Dan komunitas Skinhead," ucap Iyay, gitaris Sanfranskins.

Namun sejak mulai bermunculan kaum imigran di Inggris, seperti bangsa Pakistan, Cina, dan imigran Asia lainnya. Beberapa kaum Skinhead di Inggris memusuhi kaum imigran tersebut. Mungkin bila dilihat dalam film "Romper Stomper " pemicu kebencian kaum skinhead adalah karena para Imigran tersebut dianggap telah merebut lahan pekerjaan yang ada di Inggris.

Memasuki tahun 1960 akhir, sebenarnya konflik kaum Skinhead dengan para imigran tersebut masih dikatakan taraf biasa. Komunitas Skinhead tidak tergabung dalam gerakan politik rasial apa pun. Namun, ketika memasuki tahun 1970-an beberapa kaum Skinhead yang memusuhi kaum imigran tersebut mulai memasuki pergerakan nasionalis ekstrem, seperti National Front, British Movement, Rock Against Communism, dan Blood and Honour. Dalam image seperti inilah kemudian budaya kaum Skinhead mulai terkikis menjadi pergerakan politik berpakaian Skinhead.

Ups, jadi teringat percakapan belia bersama Iyay. Cukup panjang lebar juga Iyay bercerita mengenai perkembangan komunitas skinhead di Bandung sendiri, bahkan sampai masalah persoalan tali sepatu boots yang dianggap simbol rasis dalam Skinhead. "Skinhead itu sebenarnya bukan gerakan Neo-Nazi atau gerakan politik apa pun. Adapun pencitraan rasis. Itu hanya pemanfaatan penyebaran isme dalam pencinta musik Oi! Dan Skinhead," Ucap Iyay

Cukup menarik juga bukan? Ayo kita kembali menelisik sejarah Skinhead! Setelah cukup lama skinhead dicitrakan sebagai pergerakan politik rasis, akhirnya kira-kira pada tahun 1988 di Kota New York Marcus Pacheco beserta teman-temannya mendeklarasikan Skinhead Against Rasial Prajudice (S.H.A.R.P.) hal tersebut mewakili kaum Skinhead yang sudah mulai muak dengan rasisme dan pergerakan politik ekstrem dalam komunitas Skinhead. Kemudian pada tahun 1989 Roddy Moreno, personil The Oppressed berkunjung dan bertemu dengan anggota S.H.A.R.P., sepulangnya kembali ke Inggris. Ia mulai menyebarkan S.H.A.R.P. kepada komunitas Skinhead di Inggris.

Yah, seperti itulah perkembangan Skinhead yang mulai dikenal dengan kaum neo-nazi, akhirnya terselamatkan dengan asosiasi S.H.A.R.P. Sedikit cerita mengenai perkembangan Skinhead di Kota bandung sendiri. Perkembangan budaya tersebut menurut Juki, gitaris Renternir, menyebar tanpa terorganisasi secara sengaja dalam kehidupan anak muda saat ini. Pengetahuan anak muda Bandung sendiri mengenai Skinhead berawal dari media online (internet), yang kemudian mengalir dari pembicaraan mulut ke mulut dan menjadi salah satu perkumpulan subculture musik underground di Kota Bandung.

"Kami mah tetap menghargai roots dan budaya asli sendiri. Perkembangan Skinhead di tiap negara mungkin berbeda. Hal itu disesuaikan dengan budaya yang dimiliki negara masing-masing." ***

Minggu, 18 Januari 2009

Kemajuan teknologi yang disalahkan

BREBES - Video mesum yang diduga dilakukan oleh pelajar SMA menghebohkan dunia pendidikan di Kabupaten Brebes. Video mesum yang berisi adegan tak senonoh seorang pelajar, itu sudah beredar luas di masyarakat.

Beredarnya adegan layaknya suami istri yang berdurasi 4 menit 16 detik itu, membuat pihak kepolisian setempat memburu pelaku adegan mesum dan pelaku penyebar video tersebut.

Wakil Kepala Sekolah salah satu SMA negeri di Brebes Endy Eros mengatakan, hingga kini pihaknya masih menyelidki kasus beredarnya video mesum tersebut. Sebab, salah satu pelaku dalam video mesum itu diduga siswa dari sekolah tersebut.

"Kami masih selidiki banar atau tidak pelaku wanita itu murid SMA ini. Kalau terbukti, kami akan bertindak tegas dengan memberikan sanksi kepada pelaku itu," kata Endi kepada wartawan, Minggu (15/12/2008).

Sejumlah siswa SMA di Brebes mengaku sering melihat pelaku wanita dalam video mesum itu. Pelaku kerap keluar masuk ke beberapa warung internet (Warnet) dengan sang pacar.

"Saya sering lihat dia (wanita) itu masuk ke warnet dengan pacarnya," kata seorang siswi yang tak mau disebut identitasnya.

Menurut dia, kasus adegan mesum yang mulai beredar luas di masyarakat itu jelas tidak mendidik dan menghancurkan moral anak bangsa.(Kastolani/Sindo/hri)

Untuk Mengenang SOE HOK GIE

Satu bulan ini saya membaca buku yang berjudul “ Soe Hok Gie ; ZAMAN PERALIHAN “ yang saya pinjam dari seorang teman. Dalam benak saya hanya ingin mencoba mengenal lebih tentang Sosok Soe Hok Gie, sekaligus memperingati hari ulta dan meninggalnya Soe Hok Gie. Isinya bukunya menarik buat dibaca walaupun saya belum selesai membaca seluruhnya sampai sekarang.
Buku yang diterbitkan oleh GagasMedia yang berisi pemikiran Soe Hok Gie tentang berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemikiran yang yang sungguh penting untuk dibaca oleh generasi muda sekarang. Selain karena tetap masih relevan, juga mencakup hal-hal substansial dalam sejarah bangsa ini.
Almarhum Soe Hok Gie adalah salah satu tokoh penting mahasiswa. Ia termasuk salah satu tokoh kunci dalam sejarah munculnya Angkatan ’66. Sebuah angkatan dalam sejarah gerakan kaum terpelajar muda di Indonesia yang nyaris jadi legenda, sekaligus jadi mitos.
Soe Hoe Gie, yang disaat akhir hidupnya masih tercatat sebagai staf pengajar di jurusan sejarah FSUI, adalah sosok orang muda yang mewakili zamannya. Ia meninggal hanya sehari menjelang usianya ke 27, (lahir 17 Desember 1942, dan 16 meninggal Desember 1969).Meninggal dunia di puncak Gunung Semeru, bersama kawannya Idhan Dhanvantari Lubis yang baru berusia 20 tahun. Filsafahnya yang selalu dikenang temannya adalah kala mengajak seseorang mendaki gunung. “ Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat dipedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cumin Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini. “ kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun yang lalu.
Dalam setiap tulisannya, rasa idealisme Soe Hoe Gie terasa kental. Ia tidak mampu menyembunyikan rasa galaunya dalam melihat realita di masyarakat, jika dihubungkan dengan idealisme kaum muda. Mempertahankan idealisme ternyata bukan pekerjaan ringan, dan itu dirasakannya sendiri, ketika ia bergulat dalam catatan hariannya : “ Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas sejauh-jauhnya (LP3ES, 1983, hal.221).
Dengan kesedihan yang mendalam, ia mellihat bagaimana rakyat di pedesaaan dan mahasiswa kampus tercabik-cabik oleh perlombaan kepentingan politik arus atas. Dalam “Menaklukan Gunung Slamet”, ia bercerita tentang kepedihan hatinya melihat Indonesia yang sebetulnya tidak berubah. Hipokrisi, cakar-cakaran, korupsi, dan tukang kecap masih menonjol.
Sebagai seorang bekas aktifis mahasiswa (ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI dan seorang pendiri Mapala UI), Soe Hok Gie tahu benar betapa tidak sehatnya dunia kemahasiswaan. Termasuk dikampusnya sendiri. Dalam tulisan “ Wajah Mahasiswa UI yang Bertopeng Sebelah “,
Seo Hok Gie dengan gaya keterusterangannya yang khas, mencoba membongkar kebobrokan di kalangan mahasiswa UI.
Antara tanggal 8 Oktober 1968 sampai tanggal 3 Januari 1969, soe Hok Gie berkesempatan ke Amerika Serikat dan Australia. Ia berangkaat ke AS, atas undangan Deparlu AS. Selama sekitar 70 hari AS, aktivitasnya berkaitan dalam kapasitasnya selaku tokoh mahasiswa. Ia berkelana dari kampus ke kampus terkenal di Amerika. Berkeley, Yale, Cornell, serta bergaul dengan mahasiswa dan intelektual mancanegara.
Berbagai pengalaman dan renungannya di negeri orang, secara berkala ia kirimkan ke berbagai media cetak ibu kota. Pengalaman cosmopolitan ini agaknya begitu membekas pada dirinya, sebagaimana yang ia toreh kan dalam puisi berikut ini :
“ Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama-buruh dan pemuda, bangkit dan berkata : stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apapun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan membangun dunia, yang lebih baik…..”.

Sayang, So Hok Gie tergesa meninggal dunia, sebelum sempat memengaruhi temen-temennya secara missal. Pikiran-pikiran Soe Hoe Goe belum sempat menjadi perbuatan, baru menjadi konsep. Seandainya Soe Hok Gie berumur panjang mungkin ia akan menjadi sumber inspirasi perumusan dan perbuatan dari gerakan mahasiswa. Meskipun dalam tulisan-tulisannya Soe Hok Gie telah mencoba untuk mengangkat masalah tapi secara keseluruhan yang dia inginkan belum sempat semuanya dituliskan.

Rumah Bambu

Ini hanyalah sebuah sekumpulan artikel kecil yang saya temukan, saya baca dan saya beli seharga Rp. 3000,- ketika saya jalan-jalan di Jakarta tepatnya di lepak pedagang kaki lima jualan buku-buku bekas di depan Stasiun Jatinegara sekitar tahun 2005. (sekarang sudah tergusur) Saya tidak tau siapa yang menulisnya tapi artikel ini sangat menarik untuk dibaca, walaupun tidak semua setuju dan tidak semua percaya bahwa ada sebuah pendidikan sederhana dan yang tak segaja diciptakan oleh seseorang yang tidak mau dibalas jasanya dengan materi dia hanya ingin mengangkat derajat rakyat miskin ditengah himpitan krisis ekonomi waktu itu yang melanda negeri kita tercinta ini..
Silakan anda baca semuanya dibawah….walaupun tak semuanya saya tulis disini…..trim’s.


Kita hidup dalam silang-sengkarut wacana pragmatisme, yang mendorong paksda supaya menyesuaikan diri dengan fakta-fakta.Silang-sengkarut kritis riskan ; Ataukah terjrumus di jurang mangsa realitas. Ataukah mengangkang di puncak lembah jadi penguasa realitas...Kita juga hidup di bawah bentangan langit cita-cita. Keluasaan tanpa batas menjanjikan apapun kemungkinan, peluang dan tantangan. Juga prospek mencipta, menamai, dan berbagi dunia. Seperti Adam-Adam.. Seperti Hawa-Hawa...

Dari Sedikit Jadilah Bukit
Pada awalnya...
Bermula dari kegiatan les bagi adik-adik SD berformat (sangat) sederhana, Spontan, tidak sistematis dan tidak kontinyu; jadi sama dngan ‘seadanya’ saja. Biasanya menjelang diadakannya tes-tes regular dan ujian di sekolah merka. Dan paling paling sambil menggelesot di ruang tengah (sempit) depan televisi, rumah Pak – Bu Hari Haryanto, kampong Njagalan, Desa Cebongan, Salatiga.
Adik-adik yang terlibat berkisar antara 3 sampai 5 anak dan tidak meliputi seluruh mata pelajaran. Hanya yang dianggap paling sukar saja, misalnya matematika. Hari dan waktu pun tidak teratur. Trkadang jika akan ada Porseni SD atau semacam acara unjuk kreasi (Natalan, halal Bihalal, Wasana Warsa dan sejenisnya) beberapa adik datang untuk minta diajari ‘panembromo’ atau deklamasi. Selain itu ada juga yang ingin diajari main alat musik tertentu (keyboard, seruling, gitar). Tapi juga jarang yang bersantai membaca-baca cergam, bacaan anak – ketimbang keluyuran.
Namun selalu adik-adik sendiri dan atau orang tua mereka sendiri yang berinisiatip meminta ‘les’. Bahkan ada niatan mereka untuk membayar (tapi tetap saja digratiskan). Berhubung pada kenyataaan jam belajar tambahan yang terpadu adalah kebutuhan. Berhubung pula guru les bayaran hanya dimungkinkan bagi anak-anak dari keluarga menengah ke atas. Berhubung pula prestasi akademik – konvensional siswa relatif berbanding lurus dengan daya ekonomi orang tua. Berhubung pula secara sengaja atau tidak telah berlangsung proses segregasi dan diskriminasi dalam lingkungan institusi pendidikan mapan.
Berhubung pula karena pendidikan yang merupakan sector garap strategis dalam proses rekayasa pemberdayaan, pencerahan dan emansipasi; oleh sebab dominannya paradigma teknokratis-pro status quo-kapitalistik telah menyeleweng 180 drajat menjadi media proses dehumanisasi/pembodohan….
Maka sangat terpikir untuk menjadikan kegiatan sporadis tersebut di atas lebih sungguhan. Setidaknya lebih banyak lagi yang terlibat. Sekaligus berbarengan dengan keinginan ini, muncul pula gagasan membikin semacam yayasan pendidikan untuk membantu anak-anak (terutama SD) dari keluarga miskin.
Perihal semacam konsep Yayasan Gotong Royong Pendidikan Rakyat Miskin ini dipengaruhi faktor bahwa Bu Hari adalah pensiunan kepala sekolah dasar yang punya kelompok alumni Sekolah Guru Putri dan sejak 2003 rutin berkumpul. Barangkali nenek-nenek ini masih berkobar élan edukasinya, Cuma tenaga tua, tapi punya dana, bagaimana jika biar yang muda-muda yang bekerja di lapangan?
Namun proses menuju ke situ demikian lamban dan makin lama makin seperti tak ada peluangnya. Di sisi lain gagasan media pendidikan untuk kaum miskin malah makin mengental di otak dan menyentak-nyentak di hati. Apalagi di samping rumah ada dibangun sebuah rumah panggung dari bambu untuk kegiatan salah sebuah gereja Kristen. Karena kegiatannya adalah kebaktian, dan kebaktian ini hanya dua kali dalam seminggu, nampak sekali kalau rumah itu lebih banyak melompongnya. Baik sekali dioptimalkan secara lintas agama. Maksudnya sebagai ruang publikuntuk aktifitas bersama pengembangan komunitas. Mulai dari kategori kanak-kanak. Les Bahasa Inggris bagi adik-adik kampung ! Demikian yang terbesit. Lantas dicoba menjajagi beberapa kontak kawan di UKSW, terutama Fakultas Pendidikan Bahasa, barangkali ada yang berminat menjadi volunteer fasilitator kegiatan termaksud.
Bersamaan dengan itu, mencoba pula penjajagan pada anak-anak jalanan di terminal Salatiga yang tak jauh dari rumah, sebab sebelumnya memang dirumah panggung tersebut pernah beberapa saat digunakan sebagai semacam rumah singgah di bawah pengelolaan gereja, tapi tidak jalan karena (terlalu) berorientasi spiritual dan mengesampingkan dtrmina-derdeminan materi. Kenapa tidak dicoba lagi, dengan pendekatan yang ‘lain’ ? Yang lebih menyejarah dan berkonteks konkret?

Tak Ada Yang Sia-Sia
Hingga sekarang RUMAH BAMBU barulah tak seberapa usianya. Yang namanya pendidikan – sekolah, sudah jadi menyejarah lebih dari satu millennium ! RUMAH BAMBU bermimpi kelak jati antitesis dari kenyataan brengseknya fenomena pendidikan(sekarang) serta parahnya institusi pendidikan (sekarang) yang membawa kita pada preseden suramnya progress pencerahan serta bahkan…. Ngerinya peradaban masa datang !!! Sekolah rakyat illegal – progresif yang diperjuangkan oleh para pendahulu hebat kita untuk pencerdasan bumiputra jelata yang dibodohkan oleh hegemoni pendidikan kolonialis-imperialis-orienralis yang menindas, dimatikan dengan Ordonasi Sekolah Liar.
Ketika itu pula Rejim Hindia Belanda menikmati masa voor de orloog; jaman normal – tentram….karena rakyat Indonesia terjajah dijangkiti budaya bisu- hilang daya kritisnya – mandul daya karsanya – stagnan daya ciptanya untuk beraktualisasi sebagai bangsa yang punya kebutuhan emansipasi atas harkat dan martabatnya dari butuh untuk melakukan praktis pembebasannya sendiri.
Sesungguhnya mayoritas rakyat jelata jajahan yang miskin ini sudah berada di kubangan sejarah involusi sebuah bangsa, jika tidak kemudian para ’Bapak Bangsa’ – dengan ekstra support dari angkatan muda progresif – bernyali untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ya, sejakitu peluang masa depan terhempang. Sejak ‘kemerdekaan’itu.
RUMAH BAMBU ingin mengatakan betapa prinsipnya kemerdekaan itu. Karena KEMERDEKAAN adalah optimisme pada cakrawala terbentang yang penuh rahmat. Adalah tantanagan konstruktif untuk membangun prospek kemanusiaan, bukan dekadensi dan degradasi. Pokoknya kemerdekaan itu adalah : ‘bikin hidup lebih hidup !’….bukan malah mati..!
Artinya, tidak lain proses kita bersama RUMAH BAMBU adalah terletak pada alur proses progresif yang berhasrat untuk selalu menatap perspektif harkat-martabat manusia merdeka. Artinya, ini semua adalah sebuah praktis barsam/partisipatoris untuk terus menjadi lebih merdeka ; dari apa saja yang membelenggu hak dasar emansipasi.

BASA-BASI DIRI

Salam persahatan dari saya…..untuk Slawi dan Tegal ku tercinta untuk temen – temen satu pemikiran, satu berjuangan dan satu amamater di Poltek Tegal, untuk saudara ku dan keluarga ku tercinta.

Sekilas tentang saya….

Nama panjang saya adalah Setiyo Agus Hariyadi dan biasa keluarga, temen dan pacar panggil saya YADI. Saya adalah anak terakhir dari 8 bersaudara. Aku dibesarkan oleh pasangan suami istri yang hidup sederhana di kota Slawi yang lebih tepatnya didaerah yang mempunyai warga yang ramah dan bersahabat yaitu di Desa Procot.

Saya adalah orang yang bukan menarik jika orang melihat sekilas tentang saya, tapi orang akan tertarik jika sudah mengenal aku secara dalam tentang saya.

Saya sangat tertarik dengan pembicaraan tentang musik indie, tentang lingkungan sekitar, tentang perdamaian di bumi, tentang tergusurnya lapak – lapak dan pedagang kaki lima dipinggiran kota, tentang anak jalanan dan gembel-gembel kota yang teraniaya, tentang cinta yang terbunuh oleh penguasa dan berbicara tentang pandangan hidup gimana caranya hidup dengan damai di bumi yang kita bijak sekarang.

Begitulah sekilas tentang saya…..”yang saya lakukan sekarang adalah menjadi diri saya sendiri dan berusaha membuat orang – orang disekitar saya tersenyum dengan keadaan alam sekitar yang dihuninya”.