Minggu, 18 Januari 2009

Rumah Bambu

Ini hanyalah sebuah sekumpulan artikel kecil yang saya temukan, saya baca dan saya beli seharga Rp. 3000,- ketika saya jalan-jalan di Jakarta tepatnya di lepak pedagang kaki lima jualan buku-buku bekas di depan Stasiun Jatinegara sekitar tahun 2005. (sekarang sudah tergusur) Saya tidak tau siapa yang menulisnya tapi artikel ini sangat menarik untuk dibaca, walaupun tidak semua setuju dan tidak semua percaya bahwa ada sebuah pendidikan sederhana dan yang tak segaja diciptakan oleh seseorang yang tidak mau dibalas jasanya dengan materi dia hanya ingin mengangkat derajat rakyat miskin ditengah himpitan krisis ekonomi waktu itu yang melanda negeri kita tercinta ini..
Silakan anda baca semuanya dibawah….walaupun tak semuanya saya tulis disini…..trim’s.


Kita hidup dalam silang-sengkarut wacana pragmatisme, yang mendorong paksda supaya menyesuaikan diri dengan fakta-fakta.Silang-sengkarut kritis riskan ; Ataukah terjrumus di jurang mangsa realitas. Ataukah mengangkang di puncak lembah jadi penguasa realitas...Kita juga hidup di bawah bentangan langit cita-cita. Keluasaan tanpa batas menjanjikan apapun kemungkinan, peluang dan tantangan. Juga prospek mencipta, menamai, dan berbagi dunia. Seperti Adam-Adam.. Seperti Hawa-Hawa...

Dari Sedikit Jadilah Bukit
Pada awalnya...
Bermula dari kegiatan les bagi adik-adik SD berformat (sangat) sederhana, Spontan, tidak sistematis dan tidak kontinyu; jadi sama dngan ‘seadanya’ saja. Biasanya menjelang diadakannya tes-tes regular dan ujian di sekolah merka. Dan paling paling sambil menggelesot di ruang tengah (sempit) depan televisi, rumah Pak – Bu Hari Haryanto, kampong Njagalan, Desa Cebongan, Salatiga.
Adik-adik yang terlibat berkisar antara 3 sampai 5 anak dan tidak meliputi seluruh mata pelajaran. Hanya yang dianggap paling sukar saja, misalnya matematika. Hari dan waktu pun tidak teratur. Trkadang jika akan ada Porseni SD atau semacam acara unjuk kreasi (Natalan, halal Bihalal, Wasana Warsa dan sejenisnya) beberapa adik datang untuk minta diajari ‘panembromo’ atau deklamasi. Selain itu ada juga yang ingin diajari main alat musik tertentu (keyboard, seruling, gitar). Tapi juga jarang yang bersantai membaca-baca cergam, bacaan anak – ketimbang keluyuran.
Namun selalu adik-adik sendiri dan atau orang tua mereka sendiri yang berinisiatip meminta ‘les’. Bahkan ada niatan mereka untuk membayar (tapi tetap saja digratiskan). Berhubung pada kenyataaan jam belajar tambahan yang terpadu adalah kebutuhan. Berhubung pula guru les bayaran hanya dimungkinkan bagi anak-anak dari keluarga menengah ke atas. Berhubung pula prestasi akademik – konvensional siswa relatif berbanding lurus dengan daya ekonomi orang tua. Berhubung pula secara sengaja atau tidak telah berlangsung proses segregasi dan diskriminasi dalam lingkungan institusi pendidikan mapan.
Berhubung pula karena pendidikan yang merupakan sector garap strategis dalam proses rekayasa pemberdayaan, pencerahan dan emansipasi; oleh sebab dominannya paradigma teknokratis-pro status quo-kapitalistik telah menyeleweng 180 drajat menjadi media proses dehumanisasi/pembodohan….
Maka sangat terpikir untuk menjadikan kegiatan sporadis tersebut di atas lebih sungguhan. Setidaknya lebih banyak lagi yang terlibat. Sekaligus berbarengan dengan keinginan ini, muncul pula gagasan membikin semacam yayasan pendidikan untuk membantu anak-anak (terutama SD) dari keluarga miskin.
Perihal semacam konsep Yayasan Gotong Royong Pendidikan Rakyat Miskin ini dipengaruhi faktor bahwa Bu Hari adalah pensiunan kepala sekolah dasar yang punya kelompok alumni Sekolah Guru Putri dan sejak 2003 rutin berkumpul. Barangkali nenek-nenek ini masih berkobar élan edukasinya, Cuma tenaga tua, tapi punya dana, bagaimana jika biar yang muda-muda yang bekerja di lapangan?
Namun proses menuju ke situ demikian lamban dan makin lama makin seperti tak ada peluangnya. Di sisi lain gagasan media pendidikan untuk kaum miskin malah makin mengental di otak dan menyentak-nyentak di hati. Apalagi di samping rumah ada dibangun sebuah rumah panggung dari bambu untuk kegiatan salah sebuah gereja Kristen. Karena kegiatannya adalah kebaktian, dan kebaktian ini hanya dua kali dalam seminggu, nampak sekali kalau rumah itu lebih banyak melompongnya. Baik sekali dioptimalkan secara lintas agama. Maksudnya sebagai ruang publikuntuk aktifitas bersama pengembangan komunitas. Mulai dari kategori kanak-kanak. Les Bahasa Inggris bagi adik-adik kampung ! Demikian yang terbesit. Lantas dicoba menjajagi beberapa kontak kawan di UKSW, terutama Fakultas Pendidikan Bahasa, barangkali ada yang berminat menjadi volunteer fasilitator kegiatan termaksud.
Bersamaan dengan itu, mencoba pula penjajagan pada anak-anak jalanan di terminal Salatiga yang tak jauh dari rumah, sebab sebelumnya memang dirumah panggung tersebut pernah beberapa saat digunakan sebagai semacam rumah singgah di bawah pengelolaan gereja, tapi tidak jalan karena (terlalu) berorientasi spiritual dan mengesampingkan dtrmina-derdeminan materi. Kenapa tidak dicoba lagi, dengan pendekatan yang ‘lain’ ? Yang lebih menyejarah dan berkonteks konkret?

Tak Ada Yang Sia-Sia
Hingga sekarang RUMAH BAMBU barulah tak seberapa usianya. Yang namanya pendidikan – sekolah, sudah jadi menyejarah lebih dari satu millennium ! RUMAH BAMBU bermimpi kelak jati antitesis dari kenyataan brengseknya fenomena pendidikan(sekarang) serta parahnya institusi pendidikan (sekarang) yang membawa kita pada preseden suramnya progress pencerahan serta bahkan…. Ngerinya peradaban masa datang !!! Sekolah rakyat illegal – progresif yang diperjuangkan oleh para pendahulu hebat kita untuk pencerdasan bumiputra jelata yang dibodohkan oleh hegemoni pendidikan kolonialis-imperialis-orienralis yang menindas, dimatikan dengan Ordonasi Sekolah Liar.
Ketika itu pula Rejim Hindia Belanda menikmati masa voor de orloog; jaman normal – tentram….karena rakyat Indonesia terjajah dijangkiti budaya bisu- hilang daya kritisnya – mandul daya karsanya – stagnan daya ciptanya untuk beraktualisasi sebagai bangsa yang punya kebutuhan emansipasi atas harkat dan martabatnya dari butuh untuk melakukan praktis pembebasannya sendiri.
Sesungguhnya mayoritas rakyat jelata jajahan yang miskin ini sudah berada di kubangan sejarah involusi sebuah bangsa, jika tidak kemudian para ’Bapak Bangsa’ – dengan ekstra support dari angkatan muda progresif – bernyali untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ya, sejakitu peluang masa depan terhempang. Sejak ‘kemerdekaan’itu.
RUMAH BAMBU ingin mengatakan betapa prinsipnya kemerdekaan itu. Karena KEMERDEKAAN adalah optimisme pada cakrawala terbentang yang penuh rahmat. Adalah tantanagan konstruktif untuk membangun prospek kemanusiaan, bukan dekadensi dan degradasi. Pokoknya kemerdekaan itu adalah : ‘bikin hidup lebih hidup !’….bukan malah mati..!
Artinya, tidak lain proses kita bersama RUMAH BAMBU adalah terletak pada alur proses progresif yang berhasrat untuk selalu menatap perspektif harkat-martabat manusia merdeka. Artinya, ini semua adalah sebuah praktis barsam/partisipatoris untuk terus menjadi lebih merdeka ; dari apa saja yang membelenggu hak dasar emansipasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar